Hal-hal yang bisa dipetik dari film Dead Poet Society
Masih tentang film yang sama, yaitu film Dead Poet Society yang menurutku gak ada habisnya untuk dibicarakan. Film ini menjadi salah satu film favorit aku dan fun fact aku udah nonton ulang sampai tiga kali and still makes me crying tho :'). Film yang bukan hanya sekedar film tapi juga sangat inspiratif dan kejadian yang ditampilkan dalam film juga sangat relate dengan kehidupan,terutama dalam dunia pendidikan.
Oiya sebelum menonton film ini,aku sempat mencari-cari sinopsis dan juga review dulu di google dan menemukan satu tulisan yang sangat rapih dan bagus dalam mendeskripsikan dan mengambil nilai-nilai penting dalam film ini.Dari tulisan dalam artikel tersebut,dan ditambah dari pandanganku sendiri setelah selesai menonton film ini maka aku akan merangkumnya menjadi beberapa pelajaran yang bisa diambil dari film ini sekaligus menjadi alasan juga mengapa kalian setidaknya harus menonton film ini once in a lifetime (sekali dalam seumur hidup).
1. Berani berekspresi dan mengungkapkan ide/persepsi
Dalam film ini menampilkan Mr. Keating selaku guru sastra Inggris yang mengajarkan siswanya untuk bisa menikmati kata-kata dalam setiap puisi dan juga memahami apa itu puisi dengan mempraktikkannya langsung. Seperti yang kita ketahui bahwa dalam kesenian dan kesusastraan sangat mendorong kita untuk bebas dalam hal berekspresi,berimajinasi,dan berkreasi tanpa dibatasi oleh apapun. Nah dalam film ini banyak menyampaikan tentang hal tersebut,terutama soal kebebasan dalam mengungkapkan ide,persepsi maupun gagasan kita terhadap suatu hal. Berani untuk bersuara atas pikiran dan penilian kita sendiri,sebagaimana dalam film ada penggalan dimana Mr. Keating berbicara kepada siswanya bahwa "Kalian harus berusaha untuk menemukan suara kalian sendiri", "Make your life extraordinary".
Di jaman digital seperti sekarang ini mungkin kita seringkali takut untuk mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran kita,atau takut sekali untuk mengekspresikan perasaan dan ide kita,selain mungkin takut akan peniliain atau persepsi orang lain tentang kita juga umumnya karena takut untuk bertentangan dengan hal-hal yang sudah ada,maka karena hal tersebut kita lebih memilih untuk sekadar ikut-ikutan saja atau mengikuti arus. Di film ini sangat menegaskan soal tersebut dan mengajarkan kita untuk berani,berani berekspresi,berani mengungkapkan pandangan kita dan terlebih berani untuk menjadi diri kita sendiri. Karena hidup terlalu berharga untuk sekedar hidup karena suatu saat nanti kita akan mati. Puisi favorit aku dari film ini adalah puisi karya Henry David Thoreau yang dibacakan oleh Neil,salah satu tokoh utama saat meeting pertama perkumpulan Dead Poet Society. Ini dia isi puisinya~
2. Menikmati waktu saat ini
Di film ini seperti yang kusampaikan sebelumnya setiap tokoh dengan karakter dan backgroundnya yang berbeda-beda mencoba untuk menikmati masa muda mereka dengan menghidupi istilah "Carpe diem",yang menjadi jargon yang dipakai sepanjang film. Ya istilah atau lebih tepatnya penggalan puisi tersebut berasal dari Quintus Horatius Flaccus, atau yang lebih dikenal sebagai Horace dalam buku Odes yang terbit pada tahun 23 sebelum masehi. Puisi karya penyair romawi itu menjadi pegangan atau filosofi hidup para tokoh di film ini. Yang bisa dipetik dari puisi Horace itu ialah untuk mengajarkan kepada kita agar lebih menikmati waktu masa muda kita,melakukan hal yang kita sukai,dan untuk lebih menikmati waktu saat ini. Carpe Diem dalam bahasa Inggris berarti seize the day (petiklah hari). Atau untuk lengkapnya adalah “carpe diem, quam minimum credula postero” yang berarti “Rebutlah hari ini, berikan sedikit kepercayaan pada esok hari (masa depan)”.
Seringkali kita terjebak diantara dua hal,yaitu terlalu menyesali hal yang telah lalu dan terlalu cemas terhadap hal yang belum terjadi di masa depan,sehingga kita mengorbankan waktu-waktu saat ini,hari ini. Padahal menyesali dan menyalahkan masa lalu tidak ada gunanya dan tidak akan merubah pula apa yang sedang terjadi saat ini,begitu pula dengan terlalu mencemaskan masa depan yang belum ada dihadapan kita dan belum tentu terjadi. Dari film tersebut benar-benar menampar aku banget terutama aku yang terlalu cemas tentang hal-hal yang belum terjadi atau terlalu cemas mikirin masa depan ku nanti bagaiamana dan seperti apa. Ketika aku sadar bahwa masa depan itu rahasia Tuhan dan masa depan itu tergantung dengan apa yang kita lakukan di saat ini maka aku berusaha untuk lebih enjoy atau menikmati waktu-waktu saat ini. Banyak hal yang bisa dilakukan di saat ini,jangan sampai melewati waktu begitu saja tanpa benar-benar hidup untuk saat ini dan belajar untuk berani bikin keputusan yang tidak akan menyesal nantinya.
3. Yang ketiga ini lebih kepada soal hubungan antar orang tua dan anak. Di film ini menyindir dengan halus tentang kehidupan realitas yang biasa terjadi yaitu orang tua yang tidak tahu keinginan anak dan memaksakan kehendak mereka kepada anaknya. Seringkali orang tua menginginkan yang terbaik untuk anaknya tanpa bertanya dan peduli tentang keinginan anaknya sendiri. Sehingga yang terjadi sebagaimana dikisahkan dalam film yang digambarkan oleh Neil dan ayahnya,yang pada akhirnya berujung oleh Neil yang bunuh diri. Pesan moral yang bisa aku petik dari film ini ialah pentingnya komunikasi dan keterbukaan antara orang tua dan anak terlebih orang tua yang mau terbuka dan peduli keinginan dan perasaan anaknya dan tidak terlalu banyak menuntut akan kehidupan anaknya. Namun lebih kepada mengarahkan ,mengayomi,menuntun dan mendukung cita-cita dan mimpi sang anak.
Komentar
Posting Komentar