Mottainai : Filosofi Jepang tentang Kesia-siaan
Dalam kehidupan sehari-hari pasti kita pernah memesan makanan atau minuman lalu karena sudah terlalu kenyang akhirnya gak kita habiskan deh.. Atau menyalakan lampu di siang hari,menyalakan tv atau kipas angin /AC padahal tidak sedang kita pakai, membuang-buang waktu,bahkan sampai menyia-nyiakan kasih sayang si dia,Eh..
Nah berbagai macam bentuk pemborosan itu ternyata sudah gak asing ya di kehidupan kita. Apalagi waktu lagi bulan Ramadhan kayak gini,waktu lagi ngabuburit pasti bakalan kalap ingin membeli segala aneka warna makanan dan minuman yang kita pingin, dan ketika sudah saatnya berbuka puasa baru minum segelas air putih ditambah dengan cemal-cemil sedikit saja, perut rasanya udah kayak mau meledak karena kekenyangan. Akhirnya sisa makanan yang lain tak tersentuh lagi dan ketika sahur ternyata lauk pauk dan makanan sisanya sudah basi dan terpaksa harus dibuang deh(based on experience soalnya wkwk astaghfirullah). Nah berkenaan dengan berbagai sikap pemborosan ini aku jadi pengen berbagi salah satu filosofi dari Jepang yang bagus dan menarik banget untuk dibahas.
Jadi waktu perkuliahan Filsafat Timur kemarin aku kebetulan kebagian untuk membahas tentang filsafat Zen Buddhisme di Jepang. Waktu lagi mengkaji dan mencari berbagi referensi ketemu dengan istilah Mottainai ini,langsung deh aku kepo dan kucoba baca-baca jurnalnya. Menurutku ini filsafat Jepang yang jarang sekali dibahas dibandingkan dengan filosofi Jepang yang lainnya seperti Ikigai padahal menurutku filosofi Mottainai ini tak kalah menariknya dan sangat bagus untuk dipelajari apalagi dipraktikkan.
Jadi apa sih itu Mottainai?
Jadi singkatnya Mottainai ini ialah ungkapan penyesalan yang sangat mendalam karena membuang-buang,atau menyia-nyiakan sesuatu bukan hanya berkaitan dengan materi tapi juga bisa menyangkut hal perbuatan atau kemampuan seseorang. Mungkin kalau di Indonesia kayak,"Aduh sayang banget!".
Pada esensinya konsep Mottainai ialah sebagai salah satu cara untuk mendorong orang-orang Jepang agar tidak membuang-buang dan menyia-nyiakan makanan ataupun sumber daya lainnya. Dari Mottainai ini kita jadi bisa melihat dan tergambarkan betapa hebat perasaan menyesalnya dan ketidaksukaan orang Jepang kalau mereka menyia-nyiakan sesuatu seperti makanan,waktu dan lainnya. Ngomong-ngomong konsep Mottainai ini sudah sangat mengakar loh temen-temen dalam kebudayaan Jepang dan terbentuk oleh tradisi Budhisme disana.
Kenapa menurutku Filosofi Mottainai ini penting banget dipelajari apalagi dipraktikkan? Karena berdasarkan pengalamanku dan juga pengamatan di lingkungan sekitar perilaku membuang-buang makanan dan lainnya sering banget terjadi bahkan sudah dianggap biasa aja dan lumrah untuk dilakukan. Maka dari itu ketika aku membaca dan mempelajari filosofi ini,aku pun mulai pelan-pelan untuk mempraktikkannya dan terus belajar untuk bisa menggunakan sumber daya apapun yang ku punya dengan sebaik-baiknya,dan menghargai hal sekecil apapun yang ku punya. Hal lainnya mengapa aku ingin berbagi hal ini ialah karena fakta berikut :
Dari fakta tersebut miris banget kan temen-temen. Yuk kita sama-sama mulai terapin untuk nggak menyia-nyiakan makanan dan sumber daya yang kita punya! Bisa dimulai dari hal-hal kecil seperti mengambil makanan secukupnya dan menghabiskan makanan/minuman yang kita santap. Kalau aku sendiri punya prinsip agar tidak membuang-buang makanan adalah dengan Makan dengan porsi kecil dahulu kalau kurang baru tambah. Kalau temen-temen sendiri gimana?
fun fact : aku nulis ini dari bulan Ramadahan kemaren dan baru selesainya sekarang,dasar aku :) syudahlah ya,happy reading~
Komentar
Posting Komentar